Penyebab dan Penanganan Sindrom Tourette atau Tic Gerakan Berulang 

Sindrom Tourette atau penyakit Tourette adalah penyakit neuropsikiatrik yang membuat seseorang mengeluarkan ucapan atau gerakan yang spontan (tic) tanpa bisa mengontrolnya. Penyakit ini diwariskan secara turun-temurun dan seringkali dikaitkan dengan pengeluaran ucapan kata-kata kotor, kasar, atau menghina yang tak dapat ditahan (koprolalia). Namun, gejala ini hanya ada pada beberapa orang yang mengidap sindrom Tourette. Sindrom Tourette bukan lagi merupakan kondisi yang langka, tetapi tidak selalu diidentifikasi secara tepat karena sebagian besar sindrom Tourette merupakan sindrom yang ringan dan tic yang dikeluarkan berkurang ketika anak beranjak dewasa. Antara 0,4% hingga 3,8% anak yang berusia antara 5 hingga 18 tahun mungkin mengidap sindrom Tourette. Sindrom Tourette yang ekstrem pada orang dewasa jarang ditemui, dan sindrom ini tidak memengaruhi kecerdasan atau harapan hidup. Pada sebagian anak justru memiliki kecerdasan yang tinggi tetapi mempunyai gangguan konsentrasi belqjar.

Sindrom ini dipengaruhi oleh faktor genetikdan lingkungan, tetapi sebab pastinya masih belum diketahui. Saat ini masih belum ada penanganan yang efektif. Namun, beberapa obat dan terapi dapat digunakan. Pendidikan merupakan bagian yang penting dalam penanganan.

Nama sindrom ini berasal dari Georges Albert Édouard Brutus Gilles de la Tourette(1857–1904), dokter dan neurolog Perancis yang menerbitkan catatan tentang sembilan pasien yang mengidap Tourette pada tahun 1885.

  • Sindrom Tourette adalah gangguan neuropsikiatri di mana penderita melakukan serangkaian gerakan berulang yang tidak disengaja, di luar kendali, dan bersifat tiba-tiba. Perilaku-perilaku ini disebut tic. Sindrom Tourette biasanya bermula pada usia 2-15 tahun dan lebih umum diderita oleh anak laki-laki daripada anak perempuan.
  • Seorang anak dapat mengalami tic pada usia tertentu dan umumnya tidak terlalu terlihat. Tic terjadi secara hilang timbul dan biasanya menghilang dalam satu tahun. Pada penderita sindrom Tourette, terjadi berbagai jenis tic selama beberapa kali dalam satu hari dan berlangsung selama lebih dari satu tahun.

Penyebab 

  • Penyebab pasti sindrom Tourette belum diketahui hingga saat ini. Diperkirakan gangguan ini terjadi dari kombinasi faktor genetik dan lingkungan. 
  • Jenis kelamin laki-laki dan adanya anggota keluarga yang mengalami sindrom Tourette atau gangguan tic lainnya akan meningkatkan risiko seseorang mengalami sindrom Tourette.

Beberapa teori yang menerangkan sindrom Tourette antara lain:

  • Neurologikal. Beberapa studi menunjukkan bahwa anak dengan sindrom Tourette memiliki cacat pada struktur, fungsi, atau zat kimia pada otak. Meski begitu, keterangan yang lebih mendetail tentang penemuan ini juga belum banyak ditemukan sehingga masih belum bisa dipastikan.
  • Genetik. Gen abnormal yang diwarisi orang tua kepada anak diduga sebagai faktor penyebab kebanyakan sindrom Tourette.
  • Lingkungan. Gangguan yang dialami ibu selama masa kehamilan dan kelahiran diduga menjadi faktor risiko sindrom Tourette pada anak. Gangguan ini dapat berupa tingkat stres yang dialami ibu selama proses kehamilan atau proses kelahiran yang berlangsung lebih lama. Kondisi fisik bayi saat lahir juga diduga turut berdampak kepada kemunculan sindrom ini, misalnya berat badan di bawah kisaran normal. Selain itu, infeksi kuman streptococcal pada anak diperkirakan memiliki kaitan dengan berkembangnya sindrom ini, walaupun informasi ini juga masih belum dapat dipastikan.
  • Sindrom Tourette juga dikaitkan dengan kondisi-kondisi lain, seperti gangguan perilaku hiperaktif atau disebut juga ADHD (attention deficit hyperactivity disorder). Kondisi ini diketahui dapat dialami oleh 6 dari 10 anak dengan sindrom Tourette. Keterkaitan ini belum diketahui juga penyebabnya. 
  • Penyakit lain yang ditemui pada anak dengan kasus sindrom Tourette, antara lain:
  1. OCD (obsessive-compulsive disorder) atau OCB (obsessive-compulsive behavior) yang dialami juga oleh 5 dari 10 anak penderita sindrom Tourette.
  2. Gangguan tingkah laku (conduct disoder), seperti suka melawan dan perilaku kasar, yang dialami oleh 1-2 anak dari 10 anak penderita sindrom Tourette.
  3. Gangguan perubahan suasana hati, seperti kecemasan berlebihan dan depresi yang dialami oleh 2 dari 10 anak penderita sindrom Tourette.
  4. Perilaku melukai diri, seperti membenturkan kepalanya. Kondisi ini dialami juga oleh 3 dari 10 anak dengan sindrom Tourette.
  5. Gangguan perilaku dialami hingga 8 dari 10 anak penderita sindrom Tourette.
  6. Kesulitan belajar juga dialami oleh 3 dari 10 anak dengan sindrom Tourette.

Gejala 

  • Tic adalah gejala utama dari sindrom Tourette yang dilakukan tanpa sengaja. Perilaku Tic juga tidak memiliki maksud atau tujuan apa pun karena penderita sendiri tidak dapat mengendalikan kemunculannya.

Beberapa klasifikasi tic yang umumnya dilakukan oleh anak-anak, antara lain:

  • Motor tics, yaitu melakukan gerakan secara berulang dan dapat melibatkan kelompok otot dalam jumlah yang terbatas (simple tics) maupun beberapa otot sekaligus (complex tics). Beberapa gerakan yang termasuk ke dalam simple motor tics adalah mengerdipkan mata, membuka mulut, mencibir, mengedutkan mulut, menganggukkan kepala, atau menggelengkan kepala. Beberapa gerakan yang termasuk ke dalam complex motor tics adalah menyentuh, mengulang pergerakan suatu benda, menekuk atau memutar badan, dan meloncat-loncat.
  • Vocal tics, yaitu membuat suara-suara yang turut melibatkan otot dalam jumlah terbatas (simple tics) maupun beberapa kelompok otot sekaligus (complex tics). Beberapa contoh dari simple vocal tics adalah batuk, membuat suara menyerupai binatang, misalnya menggonggong. Perilaku anak dengan simple vocal tics juga sering menggerutu tanpa alasan. Beberapa contoh dari complex vocal tics adalah mengulang perkataan sendiri (palilalia) dan mengulang perkataan orang lain (echophenomena).
  • Tic merupakan gejala yang pada level tertentu dapat menyebabkan kesulitan bagi anak dalam bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya. Gejala lain yang juga mengikuti sindrom Tourette dan terkadang bisa cukup mengganggu, antara lain:
  • Koprolalia, yaitu menggunakan kata-kata atau umpatan yang vulgar, kotor, dan tidak sopan secara sengaja. Penting diingat hal ini tidak merefleksikan kepada karakter moral penderita atau cara asuh anak.
  • Perilaku noncabul namun tidak pantas dilakukan di tengah kehidupan sosial, seperti mengeluarkan komentar yang kasar dan tidak pantas.
  • Tic dapat bertambah parah jika penderita mengalami stres, cemas, kelelahan, atau sebaliknya terlalu bersemangat.

Diagnosis Sindrom Tourette

  • Diagnosis sindrom Tourette dilakukan berdasarkan melihat gejala yang dialami dan pemeriksaan fisik yang terkait.
  • Tics dimulai sebelum usia 18 tahun.
  • Tics tidak disebabkan oleh obat-obatan, zat, atau kondisi medis lainnya.
  • Tics dialami beberapa kali dalam sehari, hampir tiap hari atau berselang-seling, dan terjadi selama lebih dari satu tahun.
  • Mengalami baik motor maupun vocal tics walaupun tidak selalu di saat yang bersamaan.
  • Beberapa tes lain mungkin dilakukan oleh seorang neurologis untuk memastikan diagnosis sindrom Tourette, misalnya melakukan dengan tes darah dan MRI scan untuk mengenyampingkan penyebab tic oleh penyakit lain.

Pengobatan Sindrom Tourette

  • Tidak ada obat yang dapat menyembuhkan sindrom Tourette. Penanganan terhadap sindrom ini ditujukan untuk mengendalikan gejala yang mengganggu kehidupan sehari-hari penderita.
  • Tindakan perawatan sindrom Tourette sebaiknya dilakukan bersamaan dengan pengobatan kondisi lain yang muncul bersama sindrom ini. Hal ini dilakukan agar dapat mempercepat perkembangan kondisi anak menjadi lebih baik. Beberapa prosedur penanganan sindrom Tourette, antara lain:

Terapi wicara/penanganan psikologis

  • Beberapa terapi psikologis dapat membantu meredakan gejala dan permasalahan yang dipicu oleh sindrom ini, seperti mengendalikan tic saat di sekolah dan menyalurkannya kembali di rumah. Beberapa terapi yang mungkin dilakukan adalah CBT (cognitive behavioural therapy), latihan pembalikan kebiasaan, dan terapi pencegahan eksposur dan respons.
  • Edukasi dan dukungan.
  • Membekali informasi mengenai sindrom Tourette dapat membantu meningkatkan hasil dari perawatan yang dilakukan. Orang tua dan anak juga disarankan untuk mencari tahu dan bergabung dengan kelompok konsultasi agar dapat saling berbagi informasi dan pengalaman dengan sesama penderita sindrom Tourette lainnya. Edukasi juga sebaiknya dilebarkan kepada lingkungan yang sering berinteraksi dengan anak agar turut mendukung terciptanya lingkungan yang positif bagi perkembangan anak, misalnya guru di sekolah. Beberapa anak mungkin membutuhkan terapi pendekatan berbeda dalam berinteraksi atau berkembang, misalnya lewat menari atau seni drama.

Obat-obatan.

  • Selain clonazepam-a benzodiazepine, obat-obatan golongan antipsikotik umumnya digunakan untuk mengurangi terjadinya tic pada kasus sindrom Tourette yang lebih parah. Pengobatan ini bertujuan agar anak dapat melakukan aktivitas harian dengan baik sekaligus meminimalkan efek samping dari obat-obatan yang digunakan. Obat-obatan yang digunakan, antara lain aripiprazole, haloperidol, sulpiride, dan risperidone.

Bedah

  • Prosedur ini menggunakan elektroda yang ditanam ke dalam otak untuk merangsang reaksi otak dalam. Prosedur bedah pada penderita Tourette hanya direkomendasikan bagi penderita sindrom yang parah dan pada keadaan setelah terapi lain sudah tidak membuahkan hasil. Prosedur ini masih dilakukan secara terbatas sehingga tingkat keamanan dan hasilnya masih perlu dikaji lebih lanjut.
  • Di luar kontroversi yang ada mengenai prosedur penanganan sindrom Tourette, kondisi anak-anak dengan sindrom ini cenderung membaik seiring berjalannya waktu. Pada beberapa kasus, gejala yang muncul dapat berkurang atau menghilang ketika anak makin dewasa. Namun pada sebagian kasus lainnya, gejala dapat terus ada hingga anak beranjak dewasa.

Dukungan untuk Penderita Sindrom Tourette

  • Penderita sindrom Tourette umumnya memiliki tantangan atau masalah ketika berada di ruangan terbuka atau ketika harus berinteraksi dengan orang lain. Kepercayaan diri mereka dapat berkurang dan menjadi malu dengan kondisi yang mereka miliki sehingga turut meningkatkan stres dan depresi yang dapat berujung kepada penyalahgunaan obat atau zat tertentu. Beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk membantu penderita sindrom Tourette melalui kondisi mereka, antara lain:
  • Usahakan untuk selalu mendapatkan informasi yang akurat dan terkini mengenai sindrom ini, baik bagi penderita, dan keluarga. Upaya menyebarkan informasi kepada orang lain di sekitar Anda juga bisa dilakukan.
  • Ingatlah bahwa tic akan mencapai puncaknya pada saat penderita mencapai usia remaja, namun kondisi ini akan membaik seiring bertambahnya usia.
  • Pupuklah kepercayaan diri penderita sindrom Tourette, salah satunya dengan cara mendukung olahraga pilihannya atau kegiatan lain yang menarik perhatiannya serta menjaga hubungan baik dengan teman bermainnya.
  • Jadilah pendukung yang baik dan setia bagi penderita sindrom Tourette dengan membantu mengedukasi guru, teman sekolah, hingga pengemudi mobil jemputan sekolah atau orang lain di sekitar anak secara rutin. Anak dengan sindrom Tourette dapat berkembang lebih baik dalam lingkungan belajar yang lebih kecil atau melalui pelajaran tambahan yang dilakukan secara individual. Anda dapat mendukungnya dengan mengajukan kedua ide ini kepada manajemen sekolah atau perwakilan orang tua murid.
  • Temukan atau dirikan kelompok dukungan yang sesuai dan cocok dengan kebutuhan penderita atau Anda dan seluruh anggota keluarga.
  • Sindrom Tourette tidak mengurangi kepintaran atau jangka waktu hidup penderitanya. Gejala sindrom Tourette dapat membaik seiring bertambahnya usia, namun dapat juga bertambah parah sehingga membutuhkan perawatan lanjutan. Dukungan bagi penderita sindrom dapat membantu meredakan gejala yang mereka alami yang mana dapat terpicu oleh serangan kecemasan, depresi, serangan panik yang berasal dari lingkungan di sekitar mereka. Inilah sebabnya edukasi, terapi, dan dukungan kelompok memegang peranan penting bagi perkembangan kondisi penderita sindrom Tourette.

Referensi

    • Singer HS. “Tourette syndrome and other tic disorders”. Handb Clin Neurol.2011;100:641–57. doi:10.1016/B978-0-444-52014-2.00046-X PMID 21496613. Also see Singer HS. “Tourette’s syndrome: from behaviour to biology”. Lancet Neurol. 2005 Mar;4(3):149–59. doi:10.1016/S1474-4422(05)01012-4 PMID 15721825.
    • Robertson MM. “Gilles de la Tourette syndrome: the complexities of phenotype and treatment”. Br J Hosp Med (Lond). 2011 Feb;72(2):100–7. PMID 2137861
    • Peterson BS, Cohen DJ. “The treatment of Tourette’s Syndrome: multimodal, developmental intervention”. J Clin Psychiatry. 1998;59 Suppl 1:62–72; discussion 73–74. PMID 9448671. 
    • Quote: “Because of the understanding and hope that it provides, education is also the single most important treatment modality that we have in TS.” Also see Zinner 2000.

    Advertisements

    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

    w

    Connecting to %s